Chusniatul Ayati – Membesarkan Bisnis Isi Pulsa “Pandumedia”

Bagaimana pasangan Ahmad Anwar Ali dan Chusniatul Ayati yang pernah di-PHK ini bisa membesarkan bisnis isi pulsa “Pandumedia” dengan bermodalkan ratusan ribu menjadi bisnis dengan keuntungan ratusan juta.


Header image courtesy Supriadi / WirausahaIndonesia.com

Kalau sudah ada tekad, kemauan, dan ketekunan setiap usaha yang dijalankan pasti akan memperoleh keberhasilan pada akhirnya nanti. Begitu yang sudah dibuktikan oleh pasangan suami isteri Chusniatul Ayati dan Ahmad Anwar Ali sang pemilik Pandumedia, sebuah usaha retail dan grosir pulsa isi ulang elektronik yang cukup besar di Singosari, Malang.

Setelah di-PHK dari tempatnya bekerja di sebuah pabrik plastik yang sangat besar pada tahun 2004, Chusniah mulai merintis usaha berjualan aneka makanan dan es yang di titipkan di warung-warung di sekitar rumahnya. Tidak hanya itu, berjualan krupuk, kue-kue kering bahkan loper mie pun sempat dijalani oleh Chusniah saat itu untuk membantu ekonomi keluarga. Sedangkan Ali sang suami, waktu itu masih tetap bekerja di pabrik plastik yang sama. Penghasilan mingguannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan satu orang anak yang masih kecil. Sehingga Ali pun tak segan untuk membantu usaha isterinya dengan menitipkan dagangan ke warung-warung sebelum dia berangkat kerja.

Namun usaha Chusniah berjualan aneka kue dan es ini masih belum cukup untuk membantu ekonomi keluarga. Baru pada tahun 2005 atas ajakan seorang teman Chusniah mulai merintis usaha yang lain yaitu berjualan pulsa dengan mengikuti sebuah program MLM Jutawan Pulsa. Pada saat itu usaha berjualan pulsa masih belum banyak yang menjalani karena belum banyak orang yang menggunakan handphone, di Singosari saja waktu itu hanya ada satu counter isi pulsa. Jadi tidak banyak saingan dalam bisnis isi pulsa ini ketika itu. Justru bisnis yang sedang menjamur kala itu adalah usaha warung telekomunikasi atau wartel.

Memulai Usaha Isi Ulang Pulsa

Dengan modal awal uang tabungan sebesar lima ratus ribu rupiah, hasil dari hadiah dan mahar pernikahannya, dimulailah usaha bisnis isi pulsa oleh Chusniah dan Ali. Usaha ini pada awalnya dilakukan di rumah dengan memanfaatkan ruang tamu sebagai tempat bertransaksi. Pada waktu itu hanya ada 3 operator seluler. Tiap satu operator memerlukan satu handphone untuk pengisian pulsa. Sehingga Chusniah juga harus menyediakan 3 buah handphone untuk masing- masing operator.

Cara mengisikan pulsa pun dilakukan dengan sangat manual; pelanggan cukup menyebutkan nomor handphone yang akan diisi dan nama operatornya. Kemudian nomor tersebut dicatat di balik kertas kalender yang sudah disulap menjadi buku catatan pesanan pelanggan. Karena semua masih dilakukan secara manual, tak jarang dia harus merugi karena salah mengirim pulsa ke nomor orang lain dan diprotes oleh pembelinya.

Dalam waktu 3 bulan, Chusniah dan Ali memikirkan untuk mencari supplier pulsa baru setelah supplier yang ada dirasa tidak bisa memberikan keuntungan yang memadai. Setelah mencari-cari dari iklan koran, akhirnya ketemu juga supplier baru yang lebih besar di gedung Graha Pena Surabaya, M-Pulsa namanya.

Didorong keinginan untuk terus mengembangkan bisnis pulsa isi ulang, munculah ide untuk tidak lagi jualan pulsa di rumah. Mulailah Chusniah membuat kios kecil berukuran 1×2 meter dengan memanfaatkan tanah kosong milik saudaranya. Dan dibuatlah program sendiri untuk berjualan pulsa yang mirip cara multi level pulsa. Namun karena saat itu Ali masih bekerja di pabrik, maka program tersebut tidak bisa berjalan baik.

Pandumedia

Usaha isi pulsa yang diberi nama “Pandu” ini mulai membuahkan hasil ketika beberapa wartel mulai ikut menjadi mitra isi pulsa ini. Tak kurang dari 12 wartel yang menjalin kerja sama dengan konter Pandu saat itu. Cara pengisiannya pun masih juga manual. Kesalahan pengiriman pulsa sering terjadi dan mengakibatkan kerugian. Tapi hal ini tak dihiraukan oleh Chusniah dan tetap bandel terus menekuni bisnis ini. “Untuk sukses dalam bisnis itu syaratnya harus bandel, gak mudah menyerah,” kata Chusniah.

Nama “Pandu” sengaja dipilih karena terinspirasi oleh perusahaan-perusahaan besar yang menjadi rekanan tempat Ali bekerja seperti, Pandu Logistik, Pandu Lima dan lain-lain, dengan harapan agar usaha isi pulsanya kelak bisa menjadi besar juga. “Dengan mencontoh hal-hal besar, saya berharap usaha saya nanti juga ikut besar. Namun, gara-gara memakai nama Pandu ini banyak orang mengira itu nama saya, sehingga banyak juga pelanggan yang memanggil saya Mas Pandu,” terang Ali. Nama Pandu berubah menjadi “Pandumedia” setelah ada kompetitor yang menggunakan nama Raya Media.

Pertengahan tahun 2006, “Pandumedia” mulai memakai peralatan komputer setelah adik Ali yang telah lulus kuliah memberikan komputernya. Pada tahun itu pula Ali membeli software seharga dua juta menggunakan uang hasil pinjaman dari adiknya. Dan sejak itu cara kerja untuk pengisian pulsa dilakukan dengan komputer, sudah tidak lagi secara manual.

Awal tahun 2007 “Pandumedia” membeli software baru lagi seharga sembilan juta dan komputer baru seharga tujuh juta dengan cara kredit. Pada saat itu transaksi dalam sehari bisa mencapai 50-100 transaksi. Hasil dari penjualan pulsa ini tidak pernah digunakan untuk makan tetapi selalu disimpan di bank. Untuk meningkatkan hasil penjualan pulsanya, mereka merekrut dua orang karyawan yang dipekerjakan sebagai sales untuk mencari pelanggan dan konter-konter baru.

Menyiasati tantangan usaha

Bisnis pulsa ini tidak selamanya mulus-mulus saja, pernah “Pandumedia” dihajar oleh kompetitor yang menjual harga pulsa dibawah harga Pandumedia. Mau tak mau “Pandumedia” harus menyesuaikan harga pulsanya. Dalam kondisi sulit ini, muncul ide untuk memberikan pelayanan yang baik, yaitu “Bila pulsa yang dipesan pelanggan tidak masuk, maka uang akan dikembalikan,” ucap Chusniah.

Selain mengutamakan pelayanan yang baik kepada pelanggan, yang membuat “Pandumedia” bisa berkembang pesat adalah dengan cara merekrut orang lain untuk dijadikan downline. Cara yang dilakukan mirip dengan kerja multi level, tapi dilakukan dengan sistim bonus yang dibagi sendiri besarannya.

Ketika geliat usaha isi pulsa elektrik semakin semarak dan persaingan sudah sedemikian ketat, “Pandumedia” menyiapkan berbagai langkah terobosan agar bisa bertahan dan terus berkembang. Yaitu dengan berjualan kartu perdana, voucher fisik, handphone, juga melayani jasa “multi payment” untuk pembayaran telpon dan listrik di setiap counter sebagai bagian dari pengembangan usaha.

Dalam waktu 3 bulan saja untuk bisnis baru mengelola pembayaran listrik dan telpon, “Pandumedia” sudah memiliki sekitar 2.000 pelanggan. Hal ini dimungkinkan karena kekuatan jaringan downline yang dimiliki dalam bentuk konter-konter yang tersebar di berbagai kota, bahkan di seluruh Indonesia.

Sedangkan untuk berjualan perangkat handphone, dilakukan dengan cara konsinyasi dengan konter-konter RS (Re-Seller) yang mencapai 200 buah dengan masing-masing counter tersebut dititipi 5 handphone. Total penjualan bisa mencapai 1000 handphone per bulan. Ini sudah sangat melebihi target awal yang hanya sejumlah 100 handphone per bulan jika dijual sendiri di konternya.

Karena bisnis isi pulsa ini selalu berkembang dan berubah baik secara tekhnologi, kebijakan, operator, dan harga, maka diperlukan kemampuan untuk bisa menyesuaikan diri. Tahun 2011 “Pandumedia” melakukan upgrade software yang ketiga. Upgrade software ini dilakukan agar bisa mengikuti perubahan sistim di operator dari sistem cluster menjadi tidak lagi cluster.

Satu hal yang tidak pernah dilakukan “Pandumedia” adalah memikirkan harga dan trik para pesaing. Bagi “Pandumedia” kebijakan dari dealer pulsa itu intinya sama, tapi strategi dalam berjualan pulsa bisa berbeda-beda. “Yang jelas kami tetap fokus pada diri sendiri, tidak perlu memikirkan cara yang dilakukan orang lain dalam menjalankan bisnis pandumedia ini,” terang Ali.

Permodalan

Ketika masih kecil, modal usaha yang dijalankan oleh Pandumedia berasal dari uang pinjaman saudara dan tetangga yang mencapai sekitar 80 juta. Masing-masing orang meminjamkan uang sebesar Rp 10 juta dengan pembagian keuntungan per bulannya sebesar Rp 400 ribu.

Karena bisnis terus berkembang, “Pandumedia” melakukan pinjaman ke Bank melalui program pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar Rp 150 juta. Uang tersebut digunakan untuk mengembalikan uang pinjaman saudara dan tetangga, sedangkan sisanya digunakan untuk pengembangan usaha dengan membeli sebuah ruko di pinggir jalan raya.

Omset usaha pada awal merintis bisnis pulsa ini per bulan mencapai kisaran Rp 5 juta. Pada tahun 2008 omset meningkat sampai Rp 100 juta per bulan. Saat ini omset “Pandumedia” per bulan secara keseluruhan sudah mencapai angka Rp 6 milyar. Dari omset sebesar itu, “Pandumedia” mampu meraup keuntungan kotor antara Rp 150-175 juta per bulan.

Pada saat ini “Pandumedia” sudah memiliki reseller atau agen sebanyak 9.800 buah yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan agen sebanyak itu, ke depan yang perlu dikembangkan adalah sarana. “Pandumedia” tidak hanya mengandalkan sistem sms dan telpon, mereka juga memanfaatkan internet untuk melalukan transaksi, menggunakan YM dan bank online.

Menurut Ali, ke depan tantangan bisnis pulsa elektrik ini cukup besar karena pelaku bisnis ini sudah sangat menjamur. Hampir tiap tempat sudah ada penjual pulsa. Diperlukan trik-trik tertentu untuk bisa bertahan dan mampu bersaing dengan kompetitor lain, salah satunya adalah dengan mengutamakan pelayanan dan kenyamanan pelanggan. ***

Nama Usaha: Pandumedia
Bidang Usaha: Dealer isi pulsa elektrik
Nama Pemilik/Pengelola: Chusniatul Ayati
Nama Suami: Ahmad Anwar Ali
Alamat: Jl Raya 88 Singosari – Malang
Nomor Telpon: 0341 – 7777830, 7777038, 451184
Email: chusniatulayati@yahoo.com
Website: www.pandumedia.com

| PRIE | JEP |

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +2 (from 2 votes)
 

Comments

  1. mantaaabb….
    patut untuk dicontoh wujud kegigihannya nich..
    hemb….
    berakit-rakit dari hulu…….
    diwadahi batok… dirageni….
    ^_^

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Komentar anda:

*


six + = 13