Mengenal Perputaran Modal Kerja

Seorang pengusaha perlu menghitung secara cermat kebutuhan modal kerja untuk usahanya. Salah satunya adalah dengan memahami apa itu modal kerja dan bagaimana modal kerja berputar dalam roda usahanya.


Header image courtesy of Tax Credits / Flickr.com

Kita sering menggunakan istilah memutar modal usaha untuk menggambarkan bagaimana kegiatan usaha itu berlangsung. Memang pada kenyataannya, dalam sebuah usaha, modal itu berjalan berputar; yaitu dari kas menuju ke kas kembali. Dari pengeluaran kas menjadi penerimaan kas. Semakin cepat kas berputar berarti usaha semakin baik.

Pengusaha perlu mengetahui bagaimana kas itu berputar dari kas menjadi kas. Tujuannya, agar pengusaha bisa mengelola keuangan usahanya; yaitu menyediakan cukup modal serta terhindar dari situasi keuangan yang macet. Juga untuk mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan demi memutar modalnya lebih baik. Istilah yang biasa digunakan untuk modal usaha adalah modal kerja.

Berikut beberapa bentuk perputaran modal kerja sesuai dengan bentuk kegiatan usaha.

Perputaran modal kerja di perusahaan dagang sederhana

Di perusahaan dagang sederhana perputaran modal kerja pun terjadi secara sederhana. Yaitu, dimulai ketika pengusaha mengeluarkan kas untuk membeli persediaan barang dagangan. Kemudian ketika barang dagangan tersebut laku terjual, pengusaha menerima kas masuk. Modal kerja yang dibutuhkan adalah kas dan persediaan barang dagangan.

Perputaran modal kerja di perusahaan dagang sederhana + Biaya operasional

Tentu saja tidak ada perusahaan yang tidak mengeluarkan biaya untuk mengoperasikan usaha. Bahkan toko kelontong kecil pun harus mengeluarkan biaya operasional. Contoh biaya operasional: biaya transport, listrik, gaji pegawai, dan lain-lain. Oleh karena itu, modal kerja harus memperhitungkan kebutuhan biaya-biaya tersebut. Artinya, jumlah uang kas yang tersedia harus bisa juga digunakan untuk membayar biaya-biaya operasional.

Perputaran modal kerja di perusahaan dagang

Pada umumnya sebagian transaksi jual beli tidak hanya dilakukan secara tunai. Untuk meningkatkan penjualan, pengusaha menerapkan transaksi jual beli secara kredit kepada pihak-pihak yang dipercaya. Dalam hal ini, modal kerja tidak hanya melibatkan kas dan persediaan barang dagangan, melainkan juga hutang dan piutang. Pada saat pengusaha membeli barang dagangan secara kredit, ia menunda pengeluaran kas sampai saat jatuh tempo. Sebaliknya, saat pengusaha menjual secara kredit, penerimaan kasnya tertunda sampai pembeli melakukan pembayaran. Besar modal kerja yang dibutuhkan harus memperhitungkan termin hutang dan termin piutang. Jika jumlah piutang lebih besar dbanding hutang, maka modal kerja yang dibutuhkan semakin besar. Sebaliknya, modal kerja yang dibutuhkan lebih ringan bila pengusaha mampu membeli barang dagangan secara kredit, namun menjualnya secara tunai.

Perputaran modal kerja di perusahaan manufacturing

Perputaran modal kerja di perusahaan manufacturing, atau perusahaan yang memproduksi barang, terjadi semakin rumit, karena pengusaha harus mengeluarkan kas untuk membeli bahan baku dan bahan lain untuk keperluan produksi, serta biaya overhead produksi. Seluruh biaya ini tercermin dalam harga pokok persediaan barang jadi. Artinya, modal kerja yang dibutuhkan bukan hanya kas, piutang, hutang dan persediaan barang dagangan, melainkan juga persediaan bahan baku, bahan pembantu dan bahan kebutuhan produksi lain, serta barang jadi hasil produksi, ditambah biaya-biaya operasional yang tak termasuk dalam biaya produksi (misal: biaya pemasaran, biaya administrasi, dan lain-lain).

Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan hutang piutang di atas adalah hutang piutang yang berasal hanya dari kegiatan operasional usaha atau untuk keperluan pengadaan barang-barang untuk dijual. Sedangkan hutang piutang yang berasal dari pembelian atau penjualan mesin, tanah, bangunan dan perlengkapan lain yang bukan merupakan obyek usaha tidak termasuk sebagai modal kerja.

Dengan memahami bagaimana modal kerja itu berputar dalam suatu siklus usaha, diharapkan pengusaha bisa menghitung kebutuhan modal usahanya lebih cermat. Salah dalam memperkirakan modal kerja berakibat menghambat usaha atau terjadi inefisiensi permodalan. ***

| LEO | JEP |

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +8 (from 8 votes)
Leo Juliawan (34 Posts)

Editor in Chief dan penggagas WirausahaIndonesia.com.
Email: leojuliawan [@] gmail.com


 

Komentar anda:

*


two + = 3