Menghitung Kebutuhan Modal Kerja

Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha sehari-hari. Ia adalah modal yang diputar untuk mendatangkan penghasilan. Formula modal kerja sederhana saja: Kas + Persediaan + Piutang.


Header image courtesy of Rasmus Thomsen / FreeDigitalPhotos.net

Pembelian tanah, bangunan, mesin-mesin dan peralatan untuk usaha tidak termasuk ke dalam modal kerja, melainkan modal tetap. Ia disebut dengan istilah “modal tetap” karena begitu dibeli atau dimiliki oleh perusahaan, ia bersifat permanen, bersifat jangka panjang, tidak mudah diperjual-belikan, dan memang tidak ditujukan sebagai obyek untuk diperjual-belikan.

Sedangkan modal kerja atau “working capital” adalah modal yang diperlukan untuk menjalan kegiatan usaha sehari-hari. Ia adalah modal yang berputar atau digerakkan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan.

Pengusaha perlu menghitung berapa modal kerja yang dibutuhkan dalam suatu periode usaha. Kekurangan modal kerja mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. Sebaliknya, kelebihan dalam menyediakan modal kerja mengakibatkan inefisiensi.

Secara sederhana modal kerja yang dibutuhkan dihitung sebagai berikut:

Modal Kerja = Kas + Persediaan + Piutang

Kas

Kas merupakan uang tunai dan dana yang tersedia di rekening bank. Jumlah kas yang tersedia harus cukup untuk membeli barang dagangan atau persediaan yang dibutuhkan, membayar biaya-biaya operasional usaha, membayar tagihan atau hutang, serta untuk keperluan berjaga-jaga kalau-kalau ada keperluan mendadak.

Pengusaha perlu secara rutin membuat perencanaan kas; yaitu memperkirakan berapa pengeluaran dan penerimaan kas dalam satu periode ke depan. Disiplin dalam merencanakan kas bisa membantu pengusaha terhindar dari bencana kekurangan uang. Jumlah kas yang tersedia harus memperhitungkan hal-hal yang tak diinginkan. Misal, ada piutang yang terlambat dibayar oleh pembeli atau tak tertagih.

Persediaan

Pada perusahaan dagang, persediaan yang dimaksud adalah persediaan barang dagangan. Pengusaha harus mempunyai persediaan barang dagangan yang cukup untuk memenuhi penjualan dan permintaan pembeli. Oleh karena itu pengusaha harus memperkirakan berapa jumlah persediaan yang ideal. Jangan sampai kekurangan barang sehingga pelanggan berpindah ke tempat lain. Juga jangan sampai berlebihan karena akan merugikan modal pengusaha.

Pada perusahaan manufaktur atau pabrik yang memproduksi barang, persediaan harus meliputi persediaan bahan baku, bahan pembantu dan bahan-bahan penunjang lain. Kekurangan persediaan bahan baku mengakibatkan proses produksi terhambat. Sedangkan kelebihan persediaan bahan baku bisa merugikan pengusaha itu sendiri karena harus menanggung biaya penyimpanan dan resiko rusak.

Piutang

Jika perusahaan tidak menjual secara tunai, maka modal kerja harus memperhitungkan jumlah penjualan kredit atau piutang yang diberikan pada pelanggan. Memberikan piutang bisa menaikkan penjualan, namun juga menimbulkan resiko tak tertagih atau macet. Pengusaha harus menentukan anggaran piutang atau berapa besar piutang yang sanggup dibiayainya. Jangan sampai demi mengejar omset, pengusaha memberikan piutang sebanyak-banyaknya atau memberikan termin piutang yang panjang sampai melebihi kemampuan dan mengabaikan batas resiko.

Piutang mempunyai sifat menunda penerimaan kas. Oleh karena itu pengusaha perlu secara rutin memantau daftar piutang agar tidak ada penerimaan kas yang meleset. Pengusaha harus mempunyai prosedur penagihan yang baik untuk memastikan tidak ada piutang yang lewat jatuh tempo apalagi macet.

Modal Kerja Bersih

Apakah pengusaha harus menyediakan modal kerja sebesar Kas + Persediaan + Piutang? Jawabnya, tidak selalu. Jika pengusaha bisa mendapatkan persediaan barang dagangan, atau membeli keperluan usaha secara kredit, maka modal kerja yang dibutuhkan bisa dikurangi dengan hutang tersebut. Istilah yang digunakan adalah modal kerja bersih.

Modal kerja bersih = Kas + Persediaan + Piutang – Hutang

Hutang

Hutang adalah kredit atau fasilitas pembiayaan modal kerja yang diberikan oleh pemasok kepada perusahaan. Ini bisa meringankan beban modal kerja yang harus disediakan sendiri oleh pengusaha. Tips yang disarankan adalah menjaga agar terjadi keseimbangan antara termin penjualan secara kredit (piutang) dengan termin pembelian secara kredit (hutang). Perusahaan bisa mendapatkan keuntungan jika termin penjualan kredit lebih singkat dibanding termin pembelian kredit.

Sama halnya dengan piutang, pengusaha perlu secara rutin mengawasi jumlah hutang yang harus dibayar dalam satu periode ke depan. Jangan sampai pengusaha gagal menyediakan kas sehingga tak mampu membayar hutang.

Dengan mengetahui komponen-komponen modal kerja, seorang pengusaha bisa merencanakan keuangan agar dapat menunjang kelancaran usaha. Tujuan dari manajemen keuangan modal kerja adalah bagaimana menyediakan modal kerja dan memutarnya untuk mencapai tujuan keuangan perusahaan. Semoga bermanfaat. ***

| LEO | JEP |

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +7 (from 7 votes)
Leo Juliawan (34 Posts)

Editor in Chief dan penggagas WirausahaIndonesia.com.
Email: leojuliawan [@] gmail.com


 

Comments

  1. Panji Agus S says:

    Dear Pak Leo,

    Terimakasih atas ilmunya, bila saya ada pertanyaan boleh saya kirim email?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Komentar anda:

*


4 + four =