Warning: Illegal string offset 'name' in /home/wirausah/public_html/wp-content/plugins/genesis-simple-sidebars/plugin.php on line 106

Warning: Illegal string offset 'description' in /home/wirausah/public_html/wp-content/plugins/genesis-simple-sidebars/plugin.php on line 108
Sunarlian – Waroeng “Lian” Berawal Dari Jualan Pecel di Mobil

Sunarlian – Waroeng “Lian” Berawal Dari Jualan Pecel di Mobil

Siapa nyana, hanya bermula dari berjualan nasi pecel di atas mobil, Sunarlian kini mampu mengelola dua rumah makan prasmanan yang menyajikan tak kurang dari 50 jenis masakan khas Jawa yang terkenal di Malang.


><

Kolom Iklan

Pasang Iklan di Artikel Ini?
Tertarik untuk mempromosikan usaha anda di kolom artikel ini? Klik untuk contoh. Hubungi: email

 

Bagi anda yang hobi wisata kuliner dan penggemar berat aneka masakan khas Jawa, belum lengkap rasanya kalau belum mampir ke rumah makan prasmanan warung “Lian”, yang ada di kota Malang, Jawa Timur. Ada sekitar 50 jenis masakan khas Jawa yang siap memanjakan lidah anda. Soal rasa jangan ditanya, karena warung tersebut memiliki seorang koki handal yang betul bagaiamana memasak aneka resep masakan khas jawa. Dialah Sunarlian yang tidak lain adalah pemilik warung “Lian” ini.

Selain rasanya enak, harga tiap porsi makanan di warung “Lian” tergolong murah, berkisar Rp 4.500 sampai Rp. 12.500, tergantung dari lauk yang dipilih. Misal, satu porsi nasi pecel dihargai Rp 5.000, nasi urap Rp 4.500, nasi rames Rp 7.000, nasi krengsengan 8.500, nasi lodeh ikan tenggiri Rp 10.000 dan nasi balado mujaer Rp 12.500. Semua harga makanan dan minuman terpampang jelas di daftar menu. Untuk menu makanan yang dipilih sendiri oleh pembeli, harga akan disesuaikan.

Di warung “Lian” pembeli bisa mengambil sendiri makanan sesuai selera untuk dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Pelanggannya sangat banyak, datang berbagai lapisan masyarakat mulai dari ibu rumah tangga sampai pekerja kantoran. Tidak hanya dari kota Malang saja, banyak pelanggan berasal dari luar Malang yang memang sengaja mampir ke warung “Lian”.

Keberhasilan bisnis warung makanan ala prasmanan yang diraih oleh Sunarlian ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang dan berliku. Awalnya, Lian, begitu ia biasanya dipanggil, ditemani oleh suaminya Bambang Suryantoro, merintis usaha berjualan nasi pecel lebih dari 20 tahun lalu. Warung pecel pertamanya berdiri di dekat kantor PDAM kota Lawang, sekitar taun 1989. Hal itu dilakukan selain karena ingin mengembangkan hobi memasaknya, juga untuk menambah penghasilan suami yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan farmasi di kota Lawang.

Usahanya berjalan baik dan mempunyai banyak pelanggan. “Bagi kami tidak masalah untung sedikit, yang penting pelanggannya tambah banyak,” ucap Lian. Genap dua tahun, Lian kemudian memutuskan untuk pindah berjualan dengan menyewa kios kecil di pasar dekat lokasi lamanya berjualan. Tak perlu waktu lama untuk membuat warungnya menjadi ramai, karena sebagian besar pelanggan lama masih setia makan di warungnya.

Pensiun Dini

Didorong keinginan untuk lebih serius membantu usaha warung yang dirintis isterinya, Bambang Suryantoro mengambil keputusan untuk pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Bermodalkan uang pesangon, ia membeli sebuah mobil minibus Hijet yang dirombaknya menjadi warung pecel berjalan. Total ia menghabiskan dana Rp. 30 juta. “Waktu itu kami lihat jualan nasi pecel di atas mobil lebih menguntungkan karena tidak perlu sewa tempat dan bisa berpindah-pindah. Lagi pula jualan nasi dengan mobil belum banyak dilakukan orang pada saat itu,” terang Bambang.

Namun, seiring perjalanan waktu Lian dan Bambang mengangankan untuk mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi. Setelah melakukan survey ke berbagai lokasi di kota Malang akhirnya diputuskan untuk berjualan di pasar Bunul. Pertimbangannya di sana banyak perumahan dan diharapkan banyak penghuni yang menjadi pelanggannya. Benar saja, tak perlu waktu lama usaha jualan nasi pecelnya berkembang pesat. Omzet penjualannya juga terus meningkat berkat kerja keras mereka.

Walaupun usaha jualan nasi pecelnya bisa dibilang mulai mapan, namun Lian masih memendam keinginan untuk bisa mempunyai sebuah warung permanen. Lian pun mulai menyisihkan hasil keuntungannya, menerapkan pola hidup hemat dan tak lupa sepanjang malam berdoa.

Membeli Ruko

Dari hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun berjualan di atas mobil, Lian mampu mewujudkan impiannya membeli sebuah ruko seharga Rp. 100 juta di Jl Hamid Rusdi Kav No 1 Malang tak jauh dari pasar Bunul. Ruko baru tersebut dijadikan warung makanan yang diberi nama warung “LIAN”. “Agar pelanggan yang sudah kenal saya mudah mencarinya,” begitu alasan Lian tentang nama warungnya itu. Tidak sebatas pecel, Lian mulai mengembangkan aneka masakan khas Jawa lainnya.

Awal berjualan di warung baru tidaklah mudah karena saat itu bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan. Tapi, karena warung adalah satu-satunya pekerjaan yang dijalaninya maka Lian tak putus asa, dia terus saja berjualan. Minggu pertama berjualan warungnya sepi pembeli. Namun menjelang akhir bulan puasa pembelinya mulai banyak. Selain pembeli non muslim yang memang tidak menjalankan puasa di siang hari, tak sedikit pembeli muslim yang membeli masakan untuk dibawa pulang sebagai menu berbuka puasa. Di luar dugaan, bulan pertama berjualan Lian mampu memperoleh pendapatan yang lumayan.

Dalam kurun waktu 3 tahun setelah warung “Lian” beroperasi, Lian mampu mengembangkan usahanya dengan membeli sebuah ruko baru di Jl. Patimura No 60 C Malang seharga Rp. 800 juta. Ditambah dengan biaya perbaikan dan pembelian perlengkapan warung sebesar Rp. 200 juta, ia mengeluarkan modal sebesar satu milyar Rupiah untuk ruko barunya yang berlantai dua tersebut. Modal sebesar itu diperoleh dari hasil uang tabungan dan dana pinjaman bank. Jadilah ruko baru itu menjadi warung “LIAN” kedua yang dijadikan pusat untuk mengelola usaha.

Ada kejadian unik, waktu pembukaan warung ini bersamaan dengan sebuah acara militer di Lapangan Rampal dekat warungnya yang dihadiri oleh rombongan Lantamal dari Surabaya. Tanpa direncanakan sebelumnya, acara pembukaan warung menjadi sangat ramai ketika rombongan Lantamal tersebut mampir dan makan di warung “Lian”. Momen tersebut menjadi perhatian masyarakat yang lewat dan secara otomatis membuat warung “Lian” di tempat baru ini cepat dikenal.

Kunci Keberhasilan

“Menjaga kualitas makanan dan bersikap ramah kepada semua pengunjung adalah kiat kami menjalankan bisnis makanan ini,” terang Lian mengenai kiatnya menjalankan bisnisnya.

Saat ini untuk menjalankan usaha dua warungnya Lian dibantu oleh lima orang juru masak yang sudah dididiknya dengan sangat baik dan sepuluh orang karyawan. Selain itu, dua orang anaknya Nike dan Niko juga ikut terlibat langsung membantu pengelolaan warung. Setiap hari warung “Lian” buka mulai jam 06.00 pagi sampai jam 17.00 sore. Dalam sehari, warung “Lian” bisa menghabiskan beras sebanyak 1 sampai 1.5 kwintal; 40 kg gula, 4 peti telur, dan lain-lain. Semua bahan-bahan tersebut dipasok oleh mitra kerjanya, kecuali sayur dan ikan segar yang ia beli langsung di pasar.

Dengan strategi selalu menjaga kualitas masakan dan berusaha memuaskan setiap pelanggan, Sunarlian yang dibantu oleh suami dan dua orang anaknya ini terus berusaha mengelola bisnis warungnya dengan baik. Masukan dan kritik dari pelanggan diterima dengan baik. Lian berharap bisnis warung yang dikelolanya bisa berkembang lebih besar lagi di masa mendatang.

Semoga perjalanan dan kegigihan Sunarlian dan Bambang Suryantoro dengan warung “Lian”-nya bisa menggugah dan menginspirasi anda.

8 Kiat Sukses Berwirausaha Waroeng “Lian”

Sunarlian dan suaminya, Bambang Suryantoro, membagikan kiat keberhasilan mereka mengembangkan usaha rumah makan prasmanan Waroeng “LIAN”:

Kerja keras. Sebuah keberhasilan mustahil diraih tanpa kemauan kuat dan kerja keras. Di awal-awal menjalankan usaha nasi pecelnya, mulai jam 3 pagi, Lian sudah harus mulai belanja, memasak, lalu berjualan. Seusai berjualan, ia masih harus menyiapkan segala sesuatu untuk esok hari. Semuanya baru benar-benar bisa rampung menjelang tengah malam. “Saya sempat iri pada istri-istri orang lain. Mereka bisa tidur nyenyak setiap hari bersama keluarganya, sementara saya sudah harus bangun dan bekerja, apalagi waktu itu anak-anak masih kecil,” terang Lian sambil menerawang jauh. Namun semua itu bisa diatasi dengan satu keyakinan bahwa suatu ketika dia pasti akan menikmati hasil dari kerja kerasnya.

Disiplin tinggi. Apa jadinya bila seorang pengusaha warung tidak memiliki sikap disiplin yang baik. Misalnya jam buka warung tidak menentu kadang pagi, kadang siang, atau malam, tentu saja dalam waktu singkat dia akan ditinggalkan pelanggan yang kecewa. Lian sadar betul tentang pentingnya arti disiplin ini. Oleh karena itu agar pelanggannya tidak kecewa dia selalu tepat waktu untuk mulai buka warung jam 6 pagi. Satu bentuk sikap disiplin yang sudah dijalani Lian sejak dua puluh tahun silam.

Terus menjaga kualitas. Hal ini dilakukan dengan selalu mengawasi bahan dan bumbu-bumbu yang digunakan, termasuk proses mengolah masakan. Semua harus sesuai dengan resepnya. Meski harga bahan-bahan di pasar mengalami kenaikan, Lian tidak pernah mau mengurangi bahan atau bumbu masakan demi menjaga kualitas masakan. Sebagai upaya untuk menjaga kualitas, Lian mendidik pegawainya agar menjadi juru masak trampil. Untuk itu, mereka pun digaji besar agar loyal.

Melayani pembeli dengan senyuman. Seorang penjual yang baik harus pintar mengambil hati pembeli agar mau membeli dagangannya. Caranya adalah melayani pembeli dengan senyuman ramah dan pelayanan sepenuh hati. Bila pembeli sudah diperlakukan dengan baik, mereka pasti akan terkesan dan puas yang pada akhirnya akan kembali lagi di lain waktu.

Terus belajar mengembangkan diri. Walaupun warung “Lian” kini maju, bukan berarti Sunarlian dan Bambang sudah cukup berpuas diri. Mereka merasa masih belum sempurna dan perlu belajar agar bisa berkembang lebih baik lagi. Untuk itu mereka membeli banyak buku resep masakan dan berkunjung ke warung, rumah makan, atau restoran lain untuk sekedar makan malam berdua sekaligus belajar. Sebaliknya, Lian dan Bambang tak berberat hati berbagi pengalaman bila ada pengusaha rumah makan lain yang ingin belajar dan berdiskusi seputar bisnis warung makanan.

Siap menerima kritik dan masukan dari pelanggan. Kritik adalah bagian dari kepedulian pelanggan terhadap kekurangan yang mereka rasakan. Atas setiap kritik, Lian menerima dengan lapang dada dan memberikan penjelasan pada apa yang dikeluhkan pelanggan.

Manajemen yang baik. Sebuah kegiatan usaha warung makan akan bisa berjalan baik jika didukung dengan manajemen yang baik. Adanya satu sistim pencatatan yang baik tentang pengeluaran dan pendapatan warung setiap hari akan memudahkan pemilik untuk mengetahui kondisi perkembangan warungnya dalam keadaan untung atau rugi.

Jangan lupa berdoa. Sekeras apapun usaha kita bila belum dikehendaki oleh Tuhan, maka kita belum bisa mereguk sukses. “Saya selalu berdo’a sepanjang malam kepada Tuhan,” begitu terang Lian. “Dan bila apa yang kita inginkan sudah dikabulkan oleh Tuhan, jangan lupa untuk bersyukur,” Imbuhnya. Salah satu kebiasaan di warung “Lian” adalah tidak pernah menyimpan masakan. Sisa makanan dalam suatu hari bebas dibawa pulang oleh pegawainya. Sebagian dijadikan nasi bungkus untuk dibagi-bagikan kepada tukang becak, pengamen, dan tuna wisma yang mangkal di sekitar lokasi usaha. ***

Nama Usaha: Waroeng “Lian”
Bidang Usaha: Rumah makan
Nama: Sunarlian
Nama Suami: Bambang Suryantoro
Alamat: Jl. Patimura No 60 C Malang
Nomor Telpon: -
Email: -
Website: -

| PRIE | JEP |

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +2 (from 2 votes)



Komentar anda:

*


six × = 42